Senin, 19 Desember 2011

laporan hasil wawancara




Tema                       : Jadi guru itu indah
Narasumber           : Ibu Salmia S.pd
Pekerjaan / Profesi : Guru B.Indonesia
Pewawancara                   : 1. Yuni Kartika
                                  2. Suhana
                                  3. Rosniawati
                                  4. Irmanzah
Hari wawancara    : Jum’at
Tanggal wawancara        : 04 Maret 2011
Tempat wawancara         : Di kediaman rumah narasumber
Alamat wawancara         : Jln. TVRI
Waktu wawancara : 02.30 WITA – selesai













Suhana            : “ Asslamu’alaikum Wr.Wb. Sebelum kami ke inti pertanyaan yang akan kami bahas bersama ibu, tentu saja terlebih dahulu kami ingin mengenal Ibu lebih dalam karena kata orang kalau tak kenal maka tak sayang. Jadi, kami ingin terlebih dahulu mengetahui identitas ibu.”
Bu Salmia       : “ Walaikum salam Wr.Wb. Iya tentu saja. Langsung saja nama lengkap saya Salmia kalau nama panggilan saya Mia. Saya lahir tanggal 27 bulan Juni tahun 1976. Jadi kira-kira usia saya 36. Lulusan SMP saya SMP 1 Bau-bau, lulusan SMA nya SMAN 3 Bau-bau, kemudian saya lanjut ke Universitas Muhammadiyyah di Makassar. Saya kuliah selama 4 tahun. Sekarang Profesi saya sebagai guru bahasa indonesia di SMPN 3 NNK
Yuni Kartika   : “ Mengapa ibu memilih profesi sebagai guru ?
Bu Salmia       : “ Kalau memilih sebenarnya awalnya tidak, perjalanannya sangat panjang dan ceritanya sangat panjang. Kalau dulunya sesungguhnya setelah tamat SMA yang ibu mau itu sebetulnya ingin jadi perawat, tapi karena keinginan orang tua sehingga pada saat SMA saya ambil jurusan sastra indonesia. Jadi, mau tidak mau kalau kuliah kalau ambil jurusan lain kan tidak nyambung jadi kuliah mengambil jurusan Sastra Indonesia. Alhamdulillah saya mulai kuliah tahun 1995 dan tanggal 09 bulan 09 tahun 1999  ibu resmi menjadi sarjana. Setelah itu ibu mulai jadi PNS mulai tahun 2002 di Nunukan. Keinginan orang tua saya sesungguhnya tapi alhamdulillah dijalani dengan senang hati sampai sekarang menjadi pegawai tetap.”
Irmanzah         : “ Mengapa ibu menetap di Nunukan, apa ikut keluarga atau sudah ada rencana kesini ? ”
Bu Salmia       : “ Awalnya tidak ada rencana kesini hanya sekedar jalan-jalan, pakaian saya hanya dua pasang jalan-jalan kesini, tidak ada rencana kesini dan setelah ibu kesini setelah 3 bulan saya di kontrak menjadi PNS.”
Rosniawati      : “ Berapa lama Ibu sudah menjadi guru bahasa indonesia ? ”
Bu Salmia       : “ Dari tahun 2002 itulah sampai sekarang
Yuni Kartika   : “ Mengapa ibu memilih profesi guru bidang studi bahasa indonesia bukan bidang studi lain ? ”
Bu Salmia       : “ ya, karena kuliahnya kan ambil jurusan sastra indonesia. Jadi, ibu lanjutkan sebagai guru bahasa indonesia.”
Rosniawati      : “ Dalam proses pembelajaran, bagaimana cara ibu agar siswa ibu dapat menerima semua pelajaran yang di sampaikan ? ”
Bu Salmia       : “ Bagaimana caranya ya, kalau ibu seperti ini ketika ibu masuk kelas itu sudah ada kepikiran bahwa hari ini oh, untuk masuk ke kelas ini, intinya kalau ibu berjalan ke kelas yang penting siswanya senang menerima ibu di kelas dan yang penting materi ibu bisa di terima dengan baik. Ketika ibu di kelas harus menyapa dengan senyum dan mereka juga balas dengan senyum. Tapi kalau ada siswa ibu yang takut didalam maka ibu tidak akan masuk ke dalam. Jadi, kalau ibu datang harus tersenyum kalau lagi jenuh ayo kita tertawa, menyanyi, bermain. Saya yakin dengan cara itu anak-anak bisa menerima pelajaran dengan baik.
Rosniawati      : “Apa sampai sekarang masih ada siswa yang membekas di hati ibu yang baik maupun yang nakal ? ”


Bu Salmia       : “ Yang berkesan ada. Suhana sangat berkesan bagi ibu karena dia anak yang baik. Ketika dulu masuk sekolah, dengan ketekunan Suhana dulu  dibanding anak-anak sekarang. Penurunan belajar terhadap siswa waktu dulu bimbel rela membayar dan sekarang walau gratis tidak ikut. Sedangkan Suhana, dia rajin  bertanya kalau di belum puas dia akan terus bertanya.”
Irmanzah                : “ Penurunan belajar tahun 2003 kata ibu tadi bahwa waktu bimbelnya itu rela membayar dan sekarang walau gratis tidak untuk mengikuti. Menurut pendapat ibu selaku guru yang mempelajari watak siswa. Apa penyebab turun menurunnya perwatakan itu sehingga terjadi niat belajar yang kurang dan apa peran guru ? ”
Bu salmia               : “ Karena mereka minat belajarnya tidak ada maka, mereka selalu mengigat ah, SMP 3 ini kan buangan. Sehingga di lihat dari tahun ke tahun kan bisa lulus seratus persen dan dari isu-isu itu maka minat mereka untuk belajar tidak ada. Peran guru banyak tapi orang tua siswa tidak mendukung. Apa yang di lakukan guru di sana orang tua sisiwa tidak mendukung anaknya. Kadang-kadang ada surat panggilan orang tua sampai empat kali mereka tidak hadir padahal tujuan orang tua siswa dihadirkan untuk menyampaikan bahwa anaknya seperti ini dari segi nilai, minat belajar, kemudian alpanya. Tapi orang tua siswa tidak peduli dengan itu, guru juga kadang bilang begini “ bagaimana caranya supaya orang tua siswa bisa di ajak kerja sama? ” kadang-kadang guru bilang begitu. Orang tua siswa yang  sebenarnya yang tidak mau kerja sama. Tetapi ada juga yang mau di ajak kerja sama dan ada juga yang tidak mau di ajak kerja sama.”
Irmanzah                : “apa kelemahan dan kelebihan ibu dalam mengajar ? ”
Bu Salmia              : “ Kalau saya di tanya kelemahan saya, saya tidak akan menceritakan kelemahan saya siapa pun itu. Jelas saya akan menceritakan kebaikan saya lah. Tapi ini saya kadang-kadang didalam kelas itu kalau saya menyampaikan materi anak-anak pada ini. Saya tanya coba tolong kritik ibu bagaimana cara ibu menyampaikan materi supaya kalian mengerti, atau mungkin dari cara bicara ibu yang terlalu cepat atau mungkin volume suara ibu yang terlalu besar. Jadi, biarpun ibu mengulang sepuluh kali kalau anak-anak itu belum mengerti saya akan tetap mengulanginya. Kadang-kadang ibu suruh minta coba kasih kritik kepada ibu, atau mungkin mereka jenuh, kalau sudah seperti itu kadang-kadang saya kasih permainan mereka, kasih nyanyian mereka. Kalau menceritakan kelemahan saya mungkin anak-anak sendiri yang bisa menilai. Saya tidak tahu karena semua itu dinilai oleh orang lain. Karena bukan kita yang menilai diri kita sendiri.”
Suhana                   : “ Selama ibu menjadi guru, apa suka duka yang ibu alami ? ”
Bu Salmia              : “suka banyak kalau terima gaji, kalau dukanya kalau ada siswa yang bandel, nakal, ibu kan wali kelas. Ibu suka bertemu dengan anak-anak yang apa lagi misalnya dia aktif, ramah juga dengan kita, senang, biarpun kadang-kadang ibu sakit tetap kangen sama anak-anak. Kalau anak yang nakal mungkin saat itu dan mungkin tidak lagi.”
Yuni Kartika          : “ Apa ada konsekuensi yang ibu terima selama menjadi guru ? ”



Bu Salmia              : “ Konsekuensinya misalnya kadang-kadang ibu terutama yang ikut UAN jangan sampai ada siswa yang tidak lulus. Tiga bulan kemudian menghadapi ujian itu yang ibu takuti.  Tidak ada orang tua yang marah kalau anaknya tidak punya salah, kalau ada orang tua yang ngomel anaknya tidak salah itu namanya orang tua gila. Tapi keetika sudah menghadapi ujian biarpun bagaimana  kita harus berpikir  supaya anak-anak lulus ujian dan itu sudah menjadi bebannya ibu.”
Suhana                   : “ Menurut pendapat ibu selama ibu menjadi guru apa ibu sudah berhasil menjadi sebagai guru ? ”
Bu Salmia              : “ Dengan banyaknya siswa yanglulus berarti ibu berhasil donk. Tapi kalau ada siswa yang tidak lulus berarti itu adalah suatu kegagalan.
Irmanzah                : “ Saya juga pernah lihat guru melakukan penambahan nilai  terhadap siswa. Apa ibu juga melakukan proses seperti itu agar mereka bisa lulus?”
Bu Salmia              : “ Kalau masalah nilai seperti itu biasanya kan kalau guru ya, memberi nilai itu tidak harus berpatokan pada nilai konkrit misalnya kan penilaian bisa dari kehadiran, tingkah lakunya setiap hari bagaimana, biarpun mungkin dia pintar tapi tingkah lakunya sehari-hari tidak mendukung di untuk bisa mendapatkan nilai yang tinggi. Tapi kita juga tidak bisa memvonis anak-anak seperti itu. Kalau masalah penambahan nilai misalnya ia dapat lima puluh ditambahkan menjadi nilai seperti ini, itu mungkin ada kriteria-kriteria yang lain baik dalam tingkah lakunya keseharian seperti apa, tegur sapa dengan guru itukan juga menambah nilai tersendiri. Ada juga anak-anak kalau ada guru tidak ditegur, kadang-kadang juga ada anak yang biarpun bandel tapi ia bertegur sapa dengan guru, itu punya nilai tersendiri. Itu bukan rahasia lagi, kalau di dalam kelas ibu menyampaikan seperti itu kepada anak-anak. Biarpun pintar kalau tidak punya etika di dalam kelas ketika ibu menjelaskan, ketika ibu menyampaikan materi mungkin kakinya di dalam laci. Ia, kadang-kadang ada anak yang seperti itu. walaupun pintar kalau etikanya seperti itu akan mengurangi nilainya, sama juga dengan anak-anak yang kurang aktif dalam kelas ya tapi dia sopan, rajin nah itu ada nilai tersendiri juga buat dia.”
Irmanzah                : “Apakah ada niat ibu untuk melanjutkan keperguruan tinggi seperti profesor, kalau ada kenaa ibu tidak lakukan itu ? ”
Bu Salmia              : “ Kalau itu ada banget. Kemarin tidak ada di Nunukan. Sudah ingin sebenarnya. Pertama seandainya kemarin ada di Nunukan saya sudah ikut dan yang kedua seandainya saya ada di Makassar saya ikut tapi kemarin ada di Malang terlalu jauh. Kemudian kasian ada anak-anak, seandainya ada di Makassar bisa sekalian pulang kampung.
Irmanzah                : “ Masalah Uan ya bu kan paket untuk SMP itu sampai paket D dan SMA paket E. Dengan begini tingkat kelulusan semakin susah. Apa trik ibu atau cara ibu supaya mereka itu lebih masuk ke situs pembelajaran ibu itu?”
Bu Salmia              : “ Bimbel ada, kalau triknya itu tadi kalau ibu masuk di kelas ibu harus tersenyum. Itu kunci utama ibu, kalau mereka tidak tersenyum saya akan keluar. Jadi makanya ibu itu berusaha kepada mereka biar menghadapi siswa yang nakal, mengantuk, ibu usahakan supaya mereka tetap tertawa. Sehingga materi yang ibu sampaikan biarpun berjam-jam, saya yakin dan percaya mereka tidak akan ngantuk dan jenuh itu saja. Kemudian untuk menghadapi ujian seperti ini dengan banyak cara sih salah satunya dengan bahas soal-soal. Ibu adakan MGMP ( Musyawarah Mata Pelajaran ), bagaimana cara kami dengan nilai yang sangat tinggi sekarang. Apa lagi sekarang bukan hanya UAN tapi UAS juga ada, jadi kami membuat soal itu misalnya, untuk menentukan gagasan pokok, kami membuat pertanyaan lima atau sepuluh, dulu kan satu soal saja,  masih pertanyaan itu sehingga anak-anak ini biarpun nantinya di ganti dengan wacana-wacana dan dengan bermacam-macam isinya tetap satu pertanyaan saja. Jadi, biar di model seperti apa soal itu pasti mereka bisa. Itu cara saya sekarang.
Irmanzah                : “ Adakah problem terbesar selama ibu mengajar terutama komplein dari orang tua siswa ?”
Bu Salmia              : “ Alhamdulillah sampai sekarang tidak ada, bahkan ada orang tua siswa yang menitipkan anaknya kepada saya bahkan ada orang tua siswa yang tidak ada disini jauh dikem.
Suhana                   : “ Apa ibu tidak berpikir untuk pindah mengajar di sekolahan lain karena jarak antara rumah ibu dengan sekolah yang sangat jauh ?”
Bu Salmia              : “ Syukuri saja apa yang ada seperti lagu D’Masiv Syukuri apa yang ada.
Irmanzah                : “ Mengapa ibu tetap bertahan mengajar di sana ?”
Bu Salmia              : “ Kan masih kangen dengan anak-anak yang kemarin. Apa lagi suasananya di sana sangat bagus kalau di kota kan lalu lalang kendaraan ramai jadi ribut. Tapi, kalau di sana tidak, udaranya segar yang ada kalau kita jenuh kita keluar depan pintu pemandangannya sangat enak, pemandangan sawahnya seperti suasana di kampung.”
Irmanzah                : “ Apa pendapatan ibu sebagai guru sudah memenuhi kebutuhan sehari-hari ?”
Bu Salmia              : “ Yah, namanya manusia kan tidak pernah ada puasnya. Tapi penghasilan yang ada alhamdulillah lebih dari cukup.”
Irmanzah                : “ Ibu bekerja dan Bapak juga bekerja , jadi anaknya bagaimana ?”
Bu Salmia              : “ Kalau dulu ada baby susternya yang jaga kalau sekarang sudah bersekolah,. Jadi, kalau kami bekerja dia sekolah kalau dia sudah pulang sekolah di titipakan ke tetangga.”
Irmanzah                : “ Apa pernah suami ibu melarang ibu bekerja dan apa pernah ibu terpikir untuk berhenti bekerja dan hanya menjadi ibu rumah tangga saja ?”
Bu Salmia              : “ Suami saya tidak pernah melarang, kalau berhenti sebenarnya juga tidak pernah terpikir karena cita-cita ibu kan sebelum menjadi pegawai ingin membahagiakan kedua orang tua, karena sudah tercapai sayang kalau ibu tinggalkan dan keluarga semuanya mendukung saya. Saya juga tidak pernah mengeluh capek dan saya juga tidak pernah mengatakan bahwa saya akan berhenti menjadi guru.”
Suhana                   : “ Pesan ibu kepada para penerus generasi bangsa terutama kami khususnya sebagai siswa ?”
Bu Salmia              : “ Tetap semangat, belajar yang rajin, karena kalian ini generasi penerus, tetap belajar, bahagiakan kedua orang tua kalian dan  jangan lupa berdoa dan berusaha.”
Suhana                   : “ Baiklah, terimah kasih sebelumnya karena ibu sudah bersedia kami wawancarai. Wassalamu’alaikum Wr.Wb.”
Bu Salmia              : “ Ia, sama-sama dan ini pertama kalinya saya di wawancarai. Walaikum Salam Wr.Wb.”

1 komentar: